Tag

, , , , ,

Ikan patin merupakan jenis ikan konsumsi air tawar, berbadan panjang berwarna putih perak dengan punggung berwarna kebiru-biruan. Ikan patin dikenal sebagai komoditi yang berprospek cerah, karena memiliki harga jual yang tinggi. Hal inilah yang menyebabkan ikan patin mendapat perhatian dan diminati oleh para pengusaha untuk membudidayakannya. Ikan ini cukup responsif terhadap pemberian makanan tambahan. Pada pembudidayaan, dalam usia enam bulan ikan patin bisa mencapai panjang 35-40 cm. Sebagai keluarga Pangasidae, ikan ini tidak membutuhkan perairan yang mengalir untuk “membongsorkan“ tubuhnya. Pada perairan yang tidak mengalir dengan kandungan oksigen rendahpun sudah memenuhi syarat untuk membesarkan ikan ini.

Ikan patin berbadan panjang untuk ukuran ikan tawar lokal, warna putih seperti perak, punggung berwarna kebiru-biruan. Kepala ikan patin relatif kecil, mulut terletak di ujung kepala agak di sebelah bawah (merupakan ciri khas golongan catfish). Pada sudut mulutnya terdapat dua pasang kumis pendek yang berfungsi sebagai peraba.

Ikan patin bermanfaat sebagai sumber penyediaan protein hewani.

Setelah membaca komentar beberapa teman di tulisan sebelumnya, saya jadi ngerasa perlu nih untuk membahas tentang ikan namun yang lebih spesifik lagi yaitu tentang ikan patin!

Sebelumnya, pengen cerita dulu, saya mengenal ikan patin setelah tinggal di Palembang. Kalo di Manado dulu kan saya taunya ikan air tawar tuh ikan gurame, ikan mas, sama ikan mujair aja, soalnya kalo di Manado jauh lebih populer ikan air laut dibanding air tawar. Nah, setelah tinggal di Palembang, mau tak mau, kalo saya pengen makan ikan segar, pilihan satu-satunya adalah ikan air tawar ini. Kalo ikan air laut jangan harap deh nemu yang masih sueger di sini.

Awalnya, saya hanya berani membeli ikan air tawar yang memang sudah familiar buat lidah saya. Jujur yah, agak ngeri awalnya saya ngeliat si patin, soalnya ukurannya suka gede-gede banget trus darahnya juga mueraah kuentalll, jadinya dulunya saya tak pernah memasukkan ikan patin ini dalam daftar belanja mingguan ke pasar tradisional.

Nah, awal mula perkenalan saya dengan patin ini pada akhirnya terjadi di awal tahun 2010 *kebayang dooonngg…saya sudah sejak 2006 tinggal di sini dan baru mau makan ikan patin setelah 4 tahun kemudian :D *, yang mana saat itu si mbak Santi udah bekerja di tempat kami. Si mbak Santi inilah yang minta supaya dibeliin ikan patin supaya bisa dipindangnya, “dijamin enak kok, bu!” katanya gitu. Ya sutralah, saya karena percaya dengan kemampuan tangan Santi mengolah makanan akhirnya luluh juga membeli ikan patin ini. Untuk permulaan beli 2 ekor aja yang ukuran sedang.

Dan olalalaaaaa….memang bener yang dibilang si mbak Santi, dijamin enak!! Daging ikannya lembuuttt dan rasanya manisss..suedapp! Raja juga sukaaa banget sama ikan patin ini.

Sejak perkenalan itu, tiap minggu kami membeli ikan patin minimal 5 ekor, huehehehehe…

Cara membersihkan ikan patin

Nah trus kalo  soal ikan patin yang suka berbau amis dan berbau tanah, jujur yah, saya baru tau itu beberapa bulan belakangan…hihihihi… Habisnya selama ini yang saya rasakan hanya sedapnya ajah, saking pinternya si mbak Santi ngebersihin tu ikan.

Ceritanya saya bisa tau karena beberapa waktu lalu kakak ipar saya yang punya usaha songket datang ke Palembang. Pas di hari itu menu makan siang kami adalah tekwan + ikan seluang + ikan patin goreng. Ngerasain ikan patin kami yang suedap, kakak ipar saya pun nanya, “Ini gimana caranya si Santi ngebersihin, da? Kok gak ada amisnya sama sekali??”

Demi mendengar pertanyaan itu, saya dengan dodolnya bertanya, “oooo…emangnya patin bisa bau amis toh???”. Syukurnya saya bertanya dalam hati aja, jadi gak ketahuan sama si eda betapa dodolnya eda sasada kesayangannya ini…hihihihi… (special note to eda Gitta : da, kalo baca ini, pleaseee…don’t laugh at me yaa…hehehehe).

Untungnyaaa….saya punya kebiasaan memperhatikan cara kerja si mbak Santi. Biasanya sih sambil pura-pura ngambil apaaa gitu ke dapur atau pura-pura ngerapihin bumbu-bumbu dapur, jadinya saya bisa curi-curi ilmu dari dia tanpa banyak tanya. Jadi saya bisa tau, “ooo…teknik bikin fillet gurame gitu yah…” atau “ooo…kalo goreng ikan seluang bagusnya dikasihin bawang merah utuh ya biar gak saling lengket ikannya…” dan tentu saja saya juga jadi tau, “ooo….kalo ngebersihin ikan patin begitu toohhh….”

Jadiii…. Saat eda saya nanya soal cara ngebersihin ikan patin, saya pun bisa menjawabnya dengan sok tau dan sok tepat…hihihihi….

Tapi bener kok, setelah sekarang di mana saya memasak dan meracik bahan makanan sendiri, saya bisa juga tuh membersihkan ikan patin dengan tepat sampe gak ada amisnya sama sekali. Yeeesssss!!! Ternyata resep curi ilmu dari mbak Santi bener-bener berhasil saya lakukan, hihihi… Rasanya bersyukur banget deh sempat punya housemaid yang puinter soal masak memasak ini, saya jadi banyak ilmunya :D

Jadi, para ibuk-ibuk pembaca setia blog saya ini, beginilah caranya membersihkan ikan patin versi si Mbak Santi keluarga saya.

  1. Important note : ikan patin sebaiknya dipotong-potong agar mudah membersihkannya hingga ke tulang-tulangnya.
  2. Gunakan sedikit garam halus di telapak tangan kita supaya tangan tak begitu licin saat memegang ikan.
  3. Bersihkan semua isi kepala dan perut ikan. Kalo di ikan patin, isi perutnya sih lemak semua yaaa, hehehe, jadi itu dia yang perlu dikeluarkan sampai bener-bener bersih.
  4. Setelah ikan dipotong-potong, bersihkan bagian kulitnya dengan memanfaatkan pisau yang tidak begitu tajam. Ikan patin memang tak bersisik, tapi bagian kulitnya masih sangat perlu dibersihkan. Kenapa harus pakai pisau yang tidak begitu tajam? Supaya mata pisau bisa kita arahkan tidak terlalu miring. Kalo di ikan bersisik, mata pisau diarahkan miring, kalo di ikan patin mata pisau seharusnya sedikit tegak supaya kulit ikan bener-bener bersih dan bahkan bagian biru keabuannya menjadi berwarna pucat tapi kulit ikan tidak sampai terkelupas -> Aduh, it’s kinda hard to explain it in words, i think i should use picture to describe it :(
  5. Bersihkan darah yang menempel pada daging ikan sampe bener-bener bersih dan tak terlihat lagi ada titik darah pada daging ikan.
  6. Bersihkan bagian dalam tulang ikan. Caranya gimana?? Oh gampil, manfaatkan sebatang lidi, lalu tusuk-tusukkan ke dalam tulang tengahnya. Dari tulang itu biasanya akan keluar semacam sum-sum atau apalah itu namanya, bentuknya seperti tali gitu, biasanya berupa darah atau lemak. Di deket tulang juga biasanya suka menempel titik-titik darah, nah manfaatkan juga lidi untuk mengeluarkannya.
  7. Kalo sudah selesai membersihkan patinnya, sekarang soal penyimpanan. Kalo saya untuk penyimpanan ikan di freezer memanfaatkan kantung-kantung plastik transaparan. Pengen sih pake yang wadah punyanya Tupperware, tapi tidak efisien dan makan tempat. Untuk penyimpanan ini, karena kami beli sekalinya banyak, jadi langsung saya pisah-pisahkan per porsi sekali masak. Gunanya supaya nanti yang akan dicairkan hanya yang akan dimasak saja. Selain itu, untuk penyimpanan ini saya memanfaatkan dua kantung plastik sekaligus. Kantung plastik bagian dalam berisi ikan, di mana pada kedua ujung bawah plastik itu saya lubangi agar air dan darah ikan keluar semua dari plastik (maksudnya supaya ikan tidak terendam dalam sisa darahnya). Setelah itu saya masukkan lagi ke kantung plastik lainnya tanpa lubang, kalo ini sih maksudnya supaya freezer-nya gak kotor -> Duh, bisa dipahami gak yah penjelasan ini? Hehehe…

That’s it! Simple, tapi percayalah, butuh waktu lama untuk membersihkan ikan patin, bahkan lebih lama daripada membersihkan ikan bersisik! Tapi walopun butuh waktu dan tenaga, it’s worth kok, patinnya jadinya enak dan tentu aja jauh dari bau amis dan tanah ;)

Cara mengolah ikan patin

Ikan patin tuh cocoknya dipindang/disop atau digoreng bumbu bahkan digoreng biasapun udah enak kok!

Kalo untuk digoreng biasa, rendam terlebih dahulu ikan dalam perasan air jeruk + garam. Jeruknya bisa pake jeruk nipis, tapi kalo saya sih lebih suka pake lemon cui soalnya lebih cucok aja sama ikan. Kalo di Manado, lemon cui dikenal juga dengan sebutan jeruk ikan. Daaaann….di Palembang juga banyak tuh lemon cui-nya. O ya, nama lain lemon cui itu adalah lemon cina / jeruk kesturi / calamansi.

Nah, berikut saya sertakan beberapa resep untuk ikan patin ini.

Ikan patin kuah asang

Kuah asang adalah bahasa Manado yang artinya kuah asam. Biasanya, ikan yang digunakan dalam kuah asam ini adalah ikan laut. Tapi tak apalah, saya menggantinya dengan ikan patin. Kenapa pilih ikan patin? Karena teksur dagingnya yang lembut jadi nampak cocok banget dengan kuah asam.

Bahan:

  • 500 gram ikan patin, dipotong dan dibersihkan, kemudian rendam dengan 1 sdt garam dan air perasan jeruk dari 3 buah lemon cui atau 2 buah jeruk nipis selama minimal 30 menit (kalo saya sih biasanya dari malam sebelumnya, ikannya setelah dicairkan dari freezer, udah direndam dengan garam + air jeruk terus dimasukkan ke kulkas bawah, jadi pas paginya gak perlu nunggu-nunggu lagi untuk diolah)
  • 1250 ml air (atau diperkirakan lah yaaa, hehehe)
  • 10 lembar daun jeruk purut, buang tulang daunnya
  • 1 batang serai, memarkan lalu simpulkan
  • 1 lembar daun kunyit, disimpul-simpulkan juga
  • Cabe rawit merah utuh, ini tergantung selera aja, kalo suka pedes, ya silakan masukkan sebanyak yang Anda mau, hehehe… (kalo di kami, karena si papa lagi gak boleh makan yang mengandung cabe, jadinya untuk kuah asang ini saya sama sekali tidak menggunakan cabe :( )
  • 2 tomat merah, dipotong menjadi 4 bagian
  • 2 batang daun bawang, diiris kira-kira 1 cm
  • Garam secukupnya
  • 5 pucuk daun kemangi (kalo mau lebih wangiiii daun kemanginya bisa ditambah)
  • Air perasan jeruk dari dua buah jeruk nipis atau dari 3 buah lemon cui.

Cara memasak:

  1. Rebus air bersama daun kunyit, daun jeruk, dan serai hingga mendidih
  2. Masukkan bawang merah dan cabe rawit, tutup panci dan biarkan selama kurang lebih 5 menit
  3. Masukkan daun bawang, tomat, garam, dan ikannya. Masak hingga ikan matang dan empuk. Lamakah??? Oh tentu tidak, nunggu sampe 10 menit itu udah sangat lama.
  4. Matikan api, lalu masukkan daun kemangi dan air jeruk.
  5. Sajikan hangat, enaaakkk!!!

Tuh, menu spesial ini sangat gampang dan cepat kan?? Apalagi semua bahannya hanya diiris jadi gak butuh waktu banyak untuk menyiapkannya. Walopun gampang, tapi menu ini sangat spesial dengan kesegarannya dan tentu juga dengan nilai gizinya ;)

O ya, special note untuk air jeruk itu terutama untuk para penderita maag seperti saya.

Jeruk nipis sebenarnya adalah obat yang sempurna untuk sakit maag. Kenapa? Karena rasa asam pada jeruk nipis itu bersifat basa sehingga mampu menetralkan asam di lambung. Tapiii…sifat basa itu akan berubah menjadi asam ketika jeruk nipis bersentuhan dengan air panas/hangat. Karena itu, amat sangat tidak disarankan bagi penderita maag untuk minum air jeruk nipis hangat. Yang recommended itu adalah minum air perasan jeruk nipis secara langsung (atau bisa dicampur madu) atau supaya sueger, minum air jeruk nipis dingin!! Mengkonsumsi jeruk nipis ini disarankan lho untuk para penderita maag :)

Nah, terkait hal ituuu….kalo saya sih gak lagi menggunakan jeruk nipis untuk kuah asang ini, soalnya nanti maag saya senut-senut. Tanpa pake air perasan jeruk, udah lumayan kok berasa asamnya. Bener deh. Tapi kalo buat yang tidak bermasalah dengan maag, dengan menambahkan air perasan jeruk, maka rasa asam segernya akan semakin bertambah! :D

Pindang patin serani

Bahan:

  • 500 gram ikan patin, dipotong dan dibersihkan, kemudian rendam dengan 1 sdt garam dan air perasan jeruk dari 3 buah lemon cui atau 2 buah jeruk nipis selama minimal 30 menit.
  • Cabe merah besar, jumlahnya sesuai selera, dibelah
  • 5 butir bawang merah, diiris tipis
  • 3 siung bawang putih, diiris tipis
  • 2 cm jahe, diiris tipis (sebenarnya sih dikira-kira ajaaaa)
  • 3 cm kunyit, diiris tipis (samaaa…yang ini pake ilmu kira-kira juga yaaa)
  • 2 batang serai, digeprek, disimpul
  • 5 cm lengkuas, digeprek juga
  • 2 lembar daun salam
  • Gula, garam, dan merica secukupnya alias dirasa-rasa aja
  • 3 buah belimbing wuluh, diiris kasar (kalo saya gak pake)
  • 1250 ml air

Cara memasak:

  1. Tumis bawang merah, bawang putih, jahe, kunyit, laos, salam, serai, hingga harum
  2. Masukkan ikan, aduk rata, tambahkan air, biarkan sampai medidih dan keluar kaldu ikannya
  3. Masukkan garam, gula, dan merica
  4. Sebelum diangkat, kalo suka masukkan belimbing wuluh.

Rasanya segerrrr dan nyiapinnya gak pake lama :mrgreen:

Pindang serani bikinan mamanya Raja :D

Patin goreng bumbu

Bahan:

  • 500 gram ikan patin, dipotong lalu dibersihkan.

Bumbu dihaluskan:

  • 3 siung bawang putih
  • 3 buah kemiri
  • 1 batang serai
  • 1/2 sdt kunyit halus
  • 1 cm jahe (pokoknya dikira-kira lah, hehehe)
  • 1 sdt bubuk lengkuas
  • 5 cm lengkuas parut (ini buat kremes-kremesnya, kalo mau bisa dibuat lebih banyak)
  • 1 sdt ketumbar bubuk
  • Garam secukupnya

Cara memasak:

  1. Campurkan ikan dan bumbu halus dengan sedikit air, lalu aduk rata. Biarkan beberapa saat agar bumbu meresap. Seperti biasa, kalo saya sih direndamnya semalaman, hehe..
  2. Panaskan minyak, goreng ikan hingga matang.
  3. Sisa bumbu disaring lalu digoreng hingga kering kecoklatan
  4. Sajikan!

Demikanlah, ibu-ibu, semoga apa yang saya bagikan di sini mengenai si patin yang enak dan bergizi itu bisa berguna untuk para ibu semuanya :mrgreen:

Buat yang punya batita seperti saya, resep-resep di atas bisa jadi pilihan. Raja juga sukaaa banget sama aneka olahan ikan patin ini. Nah, karena Raja juga ikut makan, jadi untuk asamnya saya kurangi dengan tidak menambahkan air jeruk / belimbing wuluh (pas juga buat saya yang suka sakit maag) juga pedesnya dikurangi (kalo kami sih bener-bener dihilangkan, karena si papa gak boleh makan yang pedes untuk sementara waktu :D ).

Sekali lagi, semoga berguna yaaa :)

Happy weekend! God bless you all!