Gara-Gara Alergi

Jadi bolak-balik kesana-kemari……….

Berawal dari hari Selasa lalu, sejak pulang sekolah si abang jadi suka garuk-garuk badan. Waktu siang masih sesekali aja garuk-garuknya, tapi pas sore saya pulang, saya lihat dia tambah sering garuk-garuknya. Saya cek, di kaki dan tangannya ada bentol-bentol yang berkelompok. Bentol-bentolnya seperti yang habis digigit nyamuk tapi ukurannya lebih kecil dari yang kalo digigit nyamuk.

Karena di rumah kami gak ada bedak buat gatal-gatal, jadilah saya keluar ke apotik buat beli obat gatal Herocyn (sekalian beli testpack juga…hihihihi). Di rumah, setelah si abang gosok gigi dan siap-siap bobo, saya balurin lah itu seluruh badannya dengan bedak Herocyn, lumayan katanya gatalnya agak berkurang. Gak berapa lama, si abang pun bisa bobo.

Sekitar jam 11, saya terbangun karena ngerasa abang kok di tempat tidurnya gelisah sekali. Saya cek ternyata gatal-gatalnya keluar lagi dan banyak sekali di wajahnya. Saya balurin Herocyn lagi. Tak berapa lama, dia udah bisa tenang dan bisa pulas lagi.

Paginya, siap-siap ke sekolah. Gak ada rencana untuk gak sekolah, karena saya liat kulitnya udah bersih, gak ada gatal-gatal lagi.

Continue Reading…

Puji Tuhan

Di post yang ini, saya sudah sempat ngomong kalo tahun lalu tepatnya di bulan Mei, saya dan suami berkeputusan untuk ngambil properti lagi.

Keputusan yang nekad banget saat itu, mengingat di tahun sebelumnya kami baru beli rumah yang sekarang ini kami diami. Simpanan sebenarnya bukan yang lagi banyak, tapi kami tau ini kesempatan yang tidak boleh disia-siakan. Lagipula selama ini kami selalu berprinsip, mumpung anak masih kecil-kecil, kebutuhan belum terlalu banyak maka ini  saatnya kami berupaya untuk sebisa mungkin menginvestasikan rejeki yang Tuhan kasih. Makanya selama ini setiap kali ada rejeki lebih dari kantor semisal bonus atau penghargaan kinerja, sebisa mungkin digunakan untuk investasi.

Kalo udah kepikiran buat investasi, maka segala kepengenan yang laen-laen yang gak terlalu penting berusaha kami tahan. Segala sesuatu ada waktunya dan kami tau saat ini bukan saat untuk foya-foya. Yang penting kami bukan berhemat sampe jadi pelit ke diri sendiri, ke anak-anak, dan keluarga.

Continue Reading…

Love Comes Softly, After Marriage

Setelah kemarin cerita tentang yang ngilu-ngilu, sekarang pengen cerita yang manis-manis aaahh….

Kali ini pengen cerita tentang film-film yang bertema arranged marriage alias forced marriage alias without-love marriage.

Tema film seperti ini adalah salah satu tema film yang saya suka. Biasanya kalo lagi nyari-nyari film yang pengen ditonton trus nemu sinopsis film yang nyangkut-nyangkut ke soal beginian (asal bukan film setipe Siti Nurbaya yang mana ceweknya cantik sementara suaminya udah tua bangka ya), maka udah hampir dipastikan bahwa itu film bakal masuk dalam daftar buat saya tonton.

Nah, so far ada beberapa film yang berkisah tentang orang-orang yang menikah tanpa cinta tapi kemudian dalam perjalanannya, seperti yang udah bisa diprediksi, mereka kemudian saling jatuh cinta.

Iya, memang rata-rata predictable banget, tapi kalo mo ngarepin sesuatu yang twisted, pake mikir lama, penuh konflik, serta penuh ketegangan, maka jangan nonton film romance kayak ginian.

Setiap genre film atau tontonan ada tujuan dan kekhasannya masing-masing. Target audience-nya pun beda-beda. Tinggal kita aja sebagai penonton yang menempatkan diri sesuai dengan itu. Harapan yang kita beri dalam sebuah film pun harusnya sesuai lah dengan genrenya. Jangan ngarepin pohon mangga berbuah apel, jadi jangan pula ngarepin ada intrik mematikan dalam sebuah film sweet romance  :)

Continue Reading…

Yang Bikin Ngilu

Sekitar dua atau mungkin tiga minggu yang lalu, saya janji ke Maria buat cerita tentang beberapa film yang bikin saya ngilu. Kalo udah sampe bikin hati ngilu gitu, berarti udah pasti itu film bukan film romantis lah ya. Ya paling gak jauh-jauh dari crimethriller dan horor.

O ya, adakah yang tau apa bedanya film thriller (thriller nih bahasa Indonesia-nya apa sih?) dan film horor?

Saya sendiri gak tau pasti di mana letak perbedaan kedua genre film itu. Karena yang disebut bergenre horor bisa jadi thrilling, sementara yang disebut bergenre thriller bisa jadi horor juga, hehe…

Cuma mungkin kalo saya perhatiin, rata-rata (gak berani bilang semua) kalo yang disebut horor itu fokusnya ada di korban alias filmnya dari perspektif si korban. Yang dieskpos adalah ketakutan dan kengerian si korban sehingga yang nonton pun jadi terbawa oleh rasa takut dan ngeri yang dirasakan si korban. Si pelaku alias si jahat sendiri (entahkah dalam bentuk manusia atau hantu atau setengah manusia setengah hantu…hehehe), biasanya jarang diekspos perspektifnya. Pokoknya jahat ya jahat aja. Menyeramkan ya menyeramkan aja.

Sementara kalo film thriller biasanya perspektif pelaku juga diekspos, sehingga ketahuan apa motif dan latar belakangnya. Kengerian yang mo disalurkan ke penonton bukan hanya berdasarkan dari rasa takut dan ngeri yang dirasakan korban, tapi karena penonton juga diperhadapkan pada kengerian karena tau (atau paling tidak menduga-duga) kengerian macam apa yang bisa dibuat oleh si pelaku.

Kalo disimpulkan, rata-rata dalam film horor, si jahatnya adalah hantu dan sejenisnya. Sementara dalam film thriller, biasanya manusia.

Dari yang saya amati sih begitu ya bedanya. Tapi gak tau itu bener ato gak. Untuk cari tau dengan benar juga saya malas. Mungkin kalo dicari di google, ada yang bisa menjelaskan dengan baik dan benar apa perbedaan kedua genre film itu.

Nah, seperti yang pernah saya bilang sebelum-sebelumnya, meski sangat menyukai film romantis tapi berhubung saya dasarnya demen nonton jadi saya bisa nonton film dengan genre apa aja (kecuali b*k*p), dan dengan pengecualian kalo nonton film horor saya suka tutup-tutup mata…hihihihi… Karena kesukaan saya akan nonton, maka tentu aja saya sudah banyak sekali nonton film bergenre thriller, horor, dan crimeRata-rata ya emang nyeremin, bikin penasaran, dan menegangkan. Tapi beberapa di antaranya bener-bener bisa bikin hati saya terasa ngilu. Nah ini saya ceritain satu per satu ya film apa aja yang bikin saya ngilu itu. Gak semua film Hollywood dan aslinya kayaknya gak semua yang bikin saya ngilu saya cerita di sini karena kalo mo diceritain semua gak sanggup rasanya waktunya…hehehe….

Dan oh ya, yang saya ceritain di sini cuma yang genre-nya thriller, horror, dan crime aja. Karena sebenarnya di atas semuanya, ada satu film yang tidak termasuk dalam ketiga genre itu tapi paling bikin saya ngilu (gak cuma ngilu sebenarnya, tapi hati terasa hancur sedih lihatnya sampe air mata netes gak ketulungan banyaknya), adalah film The Passion of Christ.

Nonton film itu, benar-benar menguras emosi dari kepala sampe hati, apalagi karena tau bahwa bahkan apa yang ditunjukkan dalam film itu sebenarnya belum mendekati apa yang Tuhan Yesus alami saat penyaliban-Nya. Dan bahkan apapun yang dialami oleh Jim Caviezel saat syuting: terkena sengatan petir, bahu bergeser karena bawa kayu salib yang berat, kena cambuk yang meleset, dan segala penderitaannya, juga belum mendekati dari apa yang Tuhan Yesus alami saat itu.

Sedih….

Hancur hati……….

Apalagi karena tau, demi supaya dosa-dosa saya bisa terampuni maka semua itu Dia jalani. Tanpa darah-Nya, dosa saya masih terus dan terus terhitung. Tanpa penderitaan-Nya, maka saya tak akan pernah….tak akan pernah……bisa memanggil Allah Pencipta langit dan bumi dengan sebutan Bapa dan jadi bagian kerajaan sorga.

Karena itu, tak ada film lain yang lebih mampu menguras emosi saya dalam segala bentuk: tegang, takut, seram, ngeri, sampai sedih penuh kehancuran, dan bahagia penuh sukacita ucapan syukur tak terkira. Hanya The Passion of Christ yang bisa.

Film-film yang akan saya ceritain di sini membuat saya ngilu. Tapi hanya dari satu aspek emosi saya saja, yaitu bagian dari rasa kemanusiaan saya yang tidak pernah ingin mengalami atau hanya sekedar menyaksikan peristiwa yang sama terjadi di sekitar saya.

Continue Reading…

5 Benda Penyelamat MPASI Ketika Bepergian

Saya sama sekali gak menyangka kalo sekarang akan kembali menulis tentang MPASI lagi. Aslinya saya punya beberapa hal lain yang pengen diceritain di blog ini. Tentang film, tentang lip palette, dan tentang S.L.C. Udah lumayan lama, ada kali sekitar tiga minggu, ketiga ide itu menggantung di kepala saya. Pengennya segera ditulis. Tapi kok entah kenapa, begitu dapat pertanyaan seputar MPASI di post yang ini, pagi ini saya malah ngedapatin diri sendiri merasa lebih bersemangat untuk nulis soal MPASI buat bayi ketika sedang bepergian.

Buat yang anak-anaknya udah gede dan sudah melewati masa-masa MPASI, mungkin udah bosan kali ya dengan topik ini :D. Dan saya sendiri pun sebenarnya sudah beberapa kali menyinggung soal ini ketika cerita tentang perjalanan-perjalanan saya bersama si abang dulu. Tapi karena dulu itu nulisnya gak spesifik, jadi gak apa lah ya ditulis lagi sekarang. Mudah-mudahan berguna buat yang sedang nyari informasi.

Mungkin sama seperti orang tua lainnya yang punya anak yang masih dalam usia belum bisa makan makanan ‘luar’, kami pun berusaha memastikan supaya anak tetap bisa makan makanan rumah seperti yang biasa dia makan meskipun sedang berada di luar. Di kasus kami, hal ini bukan saja menjadi pilihan agar lebih sehat, tapi menjadi keharusan, mengingat kedua bocah ganteng luar biasa itu, sepertinya janjian untuk lebih menyukai bubur ketimbang nasi di usia segini.

Nah, dalam usaha kami itu, sesuai judulnya, kami mengandalkan lima benda di bawah ini.

Continue Reading…

Menyepi Sejenak

Long weekend dua minggu yang lalu, suami tiba-tiba ngajak untuk ikut dia yang lagi ada urusan kerjaan ke Lahat. Urusan kerjaannya hari Kamis, jadi dia ngajak kami untuk ikut dia berangkat ke Lahat hari Rabu malam dan dengan demikian kalo saya ok, berarti harus minta ijin gak ngantor di hari Kamisnya.

Aslinya, sejak dua minggu yang lalu itu hingga minggu kemarin, ada kerjaan yang tiba-tiba diberikan dan harus sudah selesai paling lambat hari Jumat kemarin dan waktu suami ngajak ikut dia ke Lahat, kerjaan alias aplikasi itu belum selesai saya kerjain (ya secara baru jalan dua hari pengerjannya). Sudah lebih dari 50% selesai memang, tapi tetap aja statusnya belum kelar dan apalagi saat itu ada kesulitan yang saya hadapi dalam pembuatan aplikasi itu yang belum nemu jalan keluarnya gimana. Dalam kondisi seperti itu, gak enak rasanya kalo harus ijin gak ngantor. Bukan gak enak sama siapa-siapa, atasan pasti akan langsung kasih kalo saya minta ijin (apalagi kalo pak suami sendiri yang ngomong ke pak atasan :P ) tapi gak enak sama diri saya sendiri karena yang namanya lagi bikin aplikasi gini, kalo ada yang mentok dan belum ketemu jalan keluarnya itu pasti bikin penasaran banget dan pengennya bisa cepet-cepet ketemu solusinya gimana. Lumayan kan, kalo dalam satu hari itu saya ijin maka beberapa jam kesempatan untuk coba dan coba lagi hingga berhasil itu akan hilang. Sempat terpikir untuk sambil liburan sambil kerja. Tapi ah, mana lah bisa kayak gitu. Kalo lagi bareng anak-anak, perhatian saya pasti tercurah ke mereka. Bisa sih sambil kerja, tapi paling bisanya sekedar nge-remote ke server kalo lagi ada masalah. Kalo untuk coding…hhhhh….sudahlah, mending gak usah memulai daripada ribet sendiri nanti :D

Rasanya berat untuk ngikut ajakan suami……….

Tapi godaan untuk bisa menghabiskan waktu bersama-sama dalam kondisi yang lagi LDM-an begini itu ternyata besar sekali terasa di hati saya………

Iya, saya tau kerjaan belum beres. Jangankan beres, saya malah sedang ngalamin kondisi mentok di mana apapun yang saya bikin hasilnya jauh dari yang diharapkan.

Tapi, berpikir kalo dalam beberapa hari ke depan kami akan tetap bisa sama-sama, saya dan suami bisa punya waktu lebih banyak untuk ngobrol sambil bertatap muka, serta anak-anak bisa main bersama papanya lebih lama…rasanya bikin saya tak punya alasan lagi untuk bilang gak mau ikut ke pak suami.

Akhirnya saya bilang ke pak suami untuk oke akan ikut, dengan catatan dia harus mendoakan saya supaya sebelum istirahat siang hari Rabu itu, saya sudah bisa nemu jalan keluar dari masalah soal aplikasi itu. Bahkan kalo bisa sehabis istirahat siang, saya udah bisa tunjukkin aplikasi itu ke atasannya atasan (karena beliau yang nge-request aplikasi ini). Walo belum sempurna, tapi seenggaknya beliau udah bisa tenang mengetahui kalo aplikasi yang beliau request dan pengen secepatnya selesai itu memang sudah hampir selesai bahkan lebih cepat dari tenggat waktu yang beliau kasih. Waktu beliau ngasih tugas, memang perintahnya gitu. Tanggal 13 April aplikasi itu akan dipakai untuk Raker. Jadi paling lambat harus sudah selesai di hari Jumat tanggal 10 April. Dan kalo bisa, selesainya lebih cepat dari tanggal 10 April itu, karena makin cepat itu aplikasi dipakai akan makin baik.

Dan puji Tuhan Yesus, di hari Rabu pagi itu juga, entah bagaimana saya udah nemu solusi buat ngakalin supaya hasil yang tampil di aplikasi bisa seperti desain yang saya harapkan. Saya sendiri kaget. Lho, cuma segitu aja ternyata? Padahal saya udah mentok selama dua hari lho itu :D

Continue Reading…

What’s So Special About FOUR?

Kalo lagi coding dalam waktu yang diburu-buru kayak gini, kebiasaan saya malah selagi coding jadi suka mikir yang aneh-aneh. Yang gak hubungannya dengan kerjaan tentu. Dan yang gak ada hubungannya juga dengan hidup saya sebenarnya.

Dan pagi ini, selagi mengatur tampilan pencapaian kinerja dalam bentuk gauge meter, tiba-tiba saya terpikir tentang angka FOUR.

Entah apa yang istimewa dengan angka ini.

Continue Reading…

Yamaha Electone Festival 2015 (Part I)

Akhirnya event Yamaha Piano Competition and Electone Festival 2015 tingkat Regional Palembang datang juga kemarin. Acaranya digelar di Grand Attyasa. Tahun ini, si abang ikut Electone Festivalnya di kategori Free Style.

Dalam kategori free style ini, peserta gak cuma main electone aja, tapi juga harus ada atraksi lainnya seperti nyanyi atau nari atau atraksi apa aja. Main electonenya gak perlu utuh seluruh lagu, tapi bisa hanya sebagian aja dan sebagian lainnya diisi dengan atraksi. Jadi di kategori ini sebenarnya kalo saya liat, kemampuan main electone-nya sendiri gak begitu penting, yang paling penting adalah kemampuan peserta untuk percaya diri dalam beratraksi dan berinteraksi dengan pemirsa dari atas panggung.

Tapi gak apa, tahun ini si abang ikutan yang kategori free style dulu, itung-itung buat ngelatih kepercayaan diri dia di atas panggung. Kalo Tuhan berkenan, tahun depan ngikut lagi untuk Piano Competition.

Oh ya, untuk electone sendiri, selain ada kategori free style, juga ada kategori concourse. Nah, kalo yang kategori concourse itu barulah memang benar-benar mengandalkan kemampuan bermain electone yang mana bikin ter-wow-wow liat kemampuan para pesertanya. Jago-jago amat yak bikin aransemen lagu sendiri trus cara mainnya itu lho…speechless liatnya dan saya selalu berpikir, itu gimana ya kakinya kok bisa lincah nginjak pedal ke sana ke mari tanpa salah nginjak pedal :D . Kalo ada yang penasaran, pengen tau gimana sih cara orang main electone dalam kompetisi Yamaha untuk kategori concourse ini, mungkin video di bawah ini bisa mewakili…

Continue Reading…

Eco.lite Diamond Ceramic (Setelah 2 Tahun 7 Bulan)

Sudah lama banget saya janji ke diri sendiri untuk ngasih review soal gimana nasib si Eco.lite ini setelah setiap hari dipake di dapur saya. Janji itu saya bikin, karena hingga hari ini masih ada aja orang yang nanya soal itu dan setiap hari tulisan saya tentang panci ini pasti diakses lebih dari 20 kali. Tapi karena banyak hal, jadinya janji soal bikin review itu tertunda-tunda dan sebelum saya sadar ternyata waktu udah berlalu selama dua tahun lebih aja. Tapi gak apa lah ya. Malah mungkin lebih bagus kali yah kalo review-nya setelah udah dipake lama banget gini? Jadi lebih akurat kan hasil review-nya?

Nah jadi pemirsa, buat yang belum pernah baca post saya yang dulu itu, ceritanya 2 tahun 7 bulan yang lalu, oleh karena racun yang ditebar oleh suami sendiri, saya membeli seperangkat panci Eco.lite Diamond Ceramic dari Chefline di MNC Shop. Satu set panci ini terdiri dari 1 panci diameter 28 cm (merah), 1 panci rendah diameter 24 cm (oranye), 1 panci ukuran 20cm (ungu), dan 1 sauce pan diameter 18 cm (kuning) serta bonus 1 frying pan diameter 28 cm dan 1 wok pan diameter 28 cm.

Seperti yang saya bilang di sini, saat awal beli saya puas banget sama panci-panci Eco.lite ini. Gak bohong ketika di iklan bilang kalo ini panci anti lengket dan bahkan bisa numis sayur tanpa pake minyak. Itu sudah saya buktikan. Panci-panci Eco.lite ini buat saya bener-bener membantu mempermudah hidup. Saya gak perlu repot mindahin isi sayur dari panci ke baskom, karena panci-panci Eco.lite ini cukup cantik untuk diletakkan langsung di atas meja makan. Nyucinya pun gampang karena sisa makanan gak lengket jadi gak butuh effort untuk bersihin panci-panci ini. Love it so much lah pokoknya!

Tapi itu kan dulu ya, ketika baru awal beli.

Nah sekarang setelah lewat dua tahun, gimana performa panci-panci itu?

Masih tetap bisa digunakan kah?

Masih tetap gak lengket kah?

Masih tetap tanpa goresan kah?

Masih tetap cantik kah?

Jawabannya……

Continue Reading…